Fanfiction · Oneshoot

[EXO Fanfiction] Rivalry Between K and M

Untitled-2

A Kaisoo Fanfiction

Rivalry Between K and M

oOoOoOo

Staring:

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Bang Minah, EXO members, Girls Day members, etc.

oOoOoOo

Oneshot | Yaoi | BL  | PG-15 | Romance | Drama

oOoOoOo

“Tipe ideal?”

“Aku menyukai seseorang yang terlihat mempesona ketika tersenyum.”

“Ya, hanya ketika dia tersenyum, senyumnya akan menjadi magnet untukku.”

Tepat setelah ia mendengar penyataan itu, senyum lebar terkembang di wajah manisnya.

Ya! Minah wae geure?”

Orang yang dipanggil Minah tadi tidak menggubris seseorang di sampingnya. Pikirannya tetap terfokus pada headset yang terpasang ditelinganya.

“MINAH!” Kini orang di samping Minah berteriak kencang sembari melepas sebelah headset Minah dengan sedikit kasar.

“Sojin Eonni,” Minah mengerucutkan bibirnya lucu, protes kepada Sojin yang secara tiba-tiba mengganggu kesenangannya tadi.

Wae geure? Kau sudah gila? Sedari tadi hanya senyam-senyum tidak jelas begitu,” Sojin menunjuk-nunjuk Minah sadis. Namun bukannya tambah ngambek, begitu mendengar kata senyam-senyum, Minah malah kembali tersenyum sumringah.

Eonni, senyumku ini, mempesona tidak?” tanya Minah dengan aegyo berkekuatan 1000 Newton. Sojin memandang dongsaeng-nya itu heran, sebelum akhirnya dengan malas menggangguk mengiyakan pertanyaan Minah tadi.

Minah melonjak kesenangangan di atas jok van yang membawa member Girl’s Day pulang menuju dorm mereka. Mata sipitnya bahkan kini tertutup sempurna karena terlalu lebar tersenyum.

“Kyaaa~ berarti aku tipe ideal-nya! Kyaaaa~”

Sojin sweatdrop melihat kelakuan dongsaeng-nya satu ini. Matanya beralih menuju Hyeri dan Yura yang duduk dibelakang mereka. Menatap keduanya dengan tatapan kenapa-sih-bocah-random-ini.

“Kyungsoo baru saja berkata di radio kalau tipe ideal-nya adalah seseorang dengan senyum menawan,” Yura menjelaskan kepada member tertua Girl’s Day itu sembari menunjukan aplikasi SUKIRA di smartphone-nya.

Ya! Yura-ya, kenapa kau mendengarkan siaran SUKIRA juga? Jangan bilang kalau kau mau merebut Kyung-“

“Kau lupa kalau aku memang sering mendengarkan siaran SUKIRA? Maaf saja. Kyungsoo bukan tipeku,” jawab Yura lugas.

Minah menjulurkan lidahnya imut. Seluruh pikirannya kini terfokus pada apa yang ia dengarkan di headset. Tepatnya hanya pada satu suara. Suara yang telah mencuri perhatiannya sejak lama.Suara yang menurutnya sangat sexy, namun juga sangat menenangkan. Suara yang hanya ketika mendengarkan akan membuat Minah berdebar.  Dan Minah bahkan tidak pernah mengira kalau dirinya akan jatuh pada pemilik suara itu sangat dalam, melebihi batas mengagumi.

Yap! Minah tau, ia menyukai, ah tidak. Mungkin lebih tepatnya mencintai seorang Do Kyungsoo.

oOoOoOo

Sorakan riuh terdengar menggema begitu EXO menyelesaikan lagu Wolf dengan sempurna di panggung SBS Inkigayo hari ini. Satu persatu member EXO kemudian turun menuju belakang panggung, dengan peluh keringat yang mengucur deras di wajah mereka mengingat koreografi Wolf yang lumayan menguras energi.

Nafas lega terdengar ketika mereka sampai di ruang tunggu EXO, menandakan kalau mereka kini bisa beristirahat sejenak atau paling tidak membasuh tenggorokan mereka dengan sebotol air mineral.

“Jongin minumlah,”  Kyungsoo mengulurkan sebotol air mineral yang masih bersegel kepada dongsaeng kesayangannya.

Jongin melirik sekilas botol air mineral tersebut, namun alih-alih mengambilnya, Jongin memilih merebut botol bekas Kyungsoo.

Ya!” Kyungsoo menatap kesal Jongin. Selalu saja begitu. Bahkan Kyungsoo hafal apa yang akan Jongin katakan selanjutnya.

“Kau tau kan Hyung, aku lebih menyukai botol yang ini,” bisik Jongin pelan dengan seringai kecil di wajahnya.

Baru saja Kyungsoo ingin membalas perkataan Jongin sebelum akhirnya ponsel hitamnya bergetar, menimbulkan suara nyaring di atas meja.

From: GD_Minah

Kyungsoo-ya, penampilanmu tadi sangat keren. Jinjja mositda! ^^

“Cih, dia lagi,” Jongin mendecih kecil mengetahui pesan yang membuat Hyung-nya itu tersenyum simpul.

“Tidak usah dibalas Hyung,” Jongin merebut paksa ponsel Kyungsoo ketika Kyungsoo mencoba membalas pesan Minah.

“Bukankah sudah kukatakan Jongin, kami hanya berteman,” jawab Kyungsoo sambil mencoba merebut ponselnya kembali. Namun sedetik kemudian ponselnya kembali bergetar, masih berada di tangan Jongin.

From: GD_Minah

Eung, Kyungsoo-ya… Apakah aku boleh mengunjungi ruang tunggu EXO? Heart heart.

Jongin kembali mendecih benci.

To: GD_Minah

Tidak.

Sending message.

“Jongin!” Kyungsoo berteriak lumayan keras, membuat sebagian member dan coordi noona menoleh kaget.

“Jangan sembarangan membalas pesan orang!” Kyungsoo merebut ponselnya, dengan segera menekan tombol dial.

Yoboseyo, Minah sunbae.”

“….”

“Ah, mianhae, tadi aku salah membalas pesan.”

“….”

“Tentu saja Sunbae boleh kesini. Memberdeul pasti juga senang.”

Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan tidak suka. Jongin benci  Kyungsoo berkata dengan nada lembut seperti itu selain pada dirinya.

Tok tok tok.

Tidak kurang dari sepuluh detik, suara ketokan pintu terdengar.

Semua mata tertuju pada pintu ruang tunggu yang mendadak terbuka, menampakkan sosok cantik dan sexy yang tersenyum manis, “Annyeonghaseyo.”

Para member EXO terpaku sejenak, sebelum akhirnya mereka membungkuk hormat sebagai balasan.

Annyeonghaseyo, Minah sunbaenim.”

Minah tersenyum menawan, mata kecilnya tertuju pada Kyungsoo yang duduk di sofa hitam di pojok ruangan. Mengerti singal yang diberikan Minah, dengan segera Kyungsoo beranjak dan menghampiri Minah sebelum akhirnya berpamitan sejenak untuk berbicara di luar.

“Ihiiiir~” member lainnya menyoraki Kyungsoo riuh. Walaupun bukan termasuk visual line, tapi Kyungsoo adalah salah satu member yang berhasil mencuri perhatian bebrapa member Girl Grup.

“Kyungsoo-Minah jjang!” Chanyeol bersorak paling keras, mengacungkan jempolnya bangga.

“Uhuuuuiiiii~”  Kembali member menyoraki Kyungsoo ketika tanpa sengaja mata mereka menangkap sebelah lengan Kyungsoo yang di gandeng Minah sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.

“Diamlah,” Jongin menatap jengah.

“Uhuuuiiii Kyungsoo-yaa,”para member makin menjadi-jadi.

“Aku bilang diam!”

“Kyungsoo-yaaaa~,” mereka terus saja fanboying.

“YA KALIAN MAU MATI?!”

Cep.

Semua terdiam.

Semua menahan nafas tegang.

Bahkan cicak di dinding pun tidak berani bergerak.

Kesalahan besar mereka adalah mereka lupa bahwa ada Jongin di sini.

Yap! Jongin sang pangeran kegelapan yang menyeramkan.

Dengan aura hitam, tanduk dikepala dan api berkobar sebagai background-nya, Jongin berjalan keluar dengan ekspresi yang sulit diprediksi.

BLAM.

Dan scene mengerikan itu berakhir dengan bantingan pintu yang keras.

“Ya Tuhan sukurlah aku masih hidup!” para member bersujud sukur bisa terhindar dari amukan sang pangeran kegelapan.

oOoOoOo

 “Luhan-Hyung, Sehun keluar sekarang juga!” secara tiba-tiba Jongin masuk begitu saja ke dalam kamar HunHanSoo, mengagetkan mereka bertiga yang entah sedang mendiskusikan apa. Sehun dan Luhan nampak kaget sekaligus bingung mencerna perkataan Jongin yang tiba-tiba.

“Jongin tunjukkan sopan santunmu. Kau bahkan tidak mengetuk pintu kami terlebih dahulu,” Kyungsoo memandang Jongin sedikit sebal perbincangannya dengan HunHan di potong begitu saja.

Jongin tidak menggubris perkataan Kyungsoo, dengan tatapan penuh emosi ia mengkodekan Sehun dan Luhan agar segera pergi dari situ. Sehun dan Luhan sudah hafal betul tabiat sang dancing machine jika sedang emosi. Dan mereka maklum akan hal itu. Tanpa suara kedua member berwajah flower boy tersebut bermaksud keluar. Namun Kyungsoo yang tak mendapat niatan baik dari Jongin mengekor di belakang keduanya.

“Kyungsoo Hyung, aku mau berbicara denganmu,” Jongin menghentikan langkah Kyungsoo dengan mencekal pergelangan lengannya. Dan dapat Kyungsoo rasakan emosi berlebihan pada cekalan itu. Semarah inikah Jongin?

Kyungsoo mengatur suaranya agar tetap tenang meskipun kini terselip ketakutan akan kemarahan yang sangat jarang Jongin tunjukkan, “Minta ijinlah pada Sehun dan Luhan Hyung dengan sopan Jongin, atau aku akan ikut keluar bersama mereka.”

Jongin tetap bergeming, bahakan kini rahangnya mengeras menahan emosi.

“Ah~ Kyungsoo-ya tidak perlu. Kami akan-“

“Sekarang atau aku akan keluar!” Kyungsoo menaikkan nada bicaranya,menatap Jongin dengan tegas.

Jongin mengeratkan genggamannya pada lengan Kyungsoo. Mata tajamnya tidak lepas dari wajah Kyungsoo yang hanya berjarak kurang dari semeter dari wajahnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, Jongin akhirnya buka sura, “Sehun dan Luhan Hyung, bolehkah aku berbicara sebentar dengan Kyungsoo Hyung? Aku mohon.”

“Si-silahkan. Kami keluar dulu,” tanpa menunggu jeda waktu keduanya langsung menghambur keluar kamar.

“Jangan lama-lama Jongin, kasian Sehun dan Luhan Hyung. Mereka sudah mengantuk dan ingin segera tidur,” pandangan dan nada bicara Kyungsoo melembut.

“Apa yang kalian bicarakan tadi?” Jongin masih menajamkan tatapannya.

Ye?” Kyungsoo membulatkan matanya lucu, sedikit bingung dengan maksud pertanyaan Jongin.

“Ah~ Kami bertiga membicarakan soal jadwal besok, Jonginnie.”

Jongin terlihat tidak puas dengan jawaban Kyungsoo. Masih dengan tatapan tajam, Jongin bertanya, “Apa yang kalian bicarakan tadi?!” Jongin menaikkan nada bicaranya.

Kyungsoo makin bingung. Dengan gugup ia mencoba mengira-ira apa maksud pertanyan Jongin. Mata bulatnya bergerak-gerak lucu. Kalau saja Jongin sedang tidak dalam mode emosi, mungkin dia akan tersenyum gemas dan memeluk Hyung-nya tersebut. Kyungsoo belum juga menemukan maksud Jongin. Dengan ekspresi bingung ia memandang Jongin, mencoba memahami pertanyaan ambigu yang keluar dari dongsaeng di hadapannya kini.

Cukup lama Kyungsoo memandang Jongin, hingga akhirnya ia mengingat sesuatu, “Ah itu. Kami hanya mengobrol biasa Jongin. Sungguh.”

Jongin tidak puas dengan jawaban Kyungsoo, masih menuntut jawaban dari Kyungsoo.

“Hanya obrolan antar teman,” Kyungsoo menambahkan. “Kau tidak percaya padaku, huh?”

“Obrolan antar teman tapi dengan acara menggandeng lenganmu segala?”

Kyungsoo menggaruk tengkuknya kikuk, bingung mau menjawab apa.

“Obrolan antar teman tapi kau mengacak-acak rambutnya mesra juga?”

“Jong-jongin itu-“

“Antar teman tapi aku bisa melihat perasaan lebih dari tatapan matanya kepadamu Hyung!” Jongin berseru dengan sedikit frustasi. Setelah kegiatan memata-matai Kyungsoo dan Minah tadi siang, Jongin malah menemukan fakta yang membuat api cemburunya makin berkobar hebat.

“Jauhi dia Hyung!”

“Tapi sungguh kami hanya berteman Jongin.”

“Kita juga awalnya berteman kan?” Jongin makin dingin.

“Y-Ya!”

“Hapus nomor teleponnya, hindari ketika dia mendekatimu, kalau perlu bersikaplah sedikit jahat adak agar dia menjauhimu!”

Kyungsoo membulatkan matanya tidak percaya, “Ya! Kau tidak berhak menentukan siapa temanku Jongin!”

“Aku berhak!” Jongin setengah berteriak. “Bahkan kalau perlu aku yang akan membuat dia menjauhimu.”

“JONGIN HENTIKAN!”

“Kau sama sekali tidak berhak melakukan itu! Ada apa denganmu?” Kyungsoo ikut emosi, kini berteriak juga.

“AKU CEMBURU HYUNG!”

Kyungsoo terhenyak, ia menggigit bibirnya gugup. Dapat ia rasakan jantungnya berdebar abstrak tepat setelah mendengar pernyataan Jongin barusan. Bahkan dalam keheningan yang tercipta setelah itu, Kyungsoo bisa merasakan tubuhnya terhentak akibat jantungnya yang berdebar terlampau keras. Aish~ Kyungsoo benci ketika Jongin membuatnya seperti ini.

“Tapi seharusnya kau bisa dewasa sedikit, Jongin.”

Jongin kini memandang Kyungsoo tidak percaya. Setelah Kyungsoo terbukti sebagai pihak yang bersalah menurutnya, masih saja Kyungsoo membela orang itu?

“Oh,  jadi sekarang hanya aku yang mencintaimu Hyung? Atau sebenarnya sedari awal memang hanya aku yang mencintaimu?” Jongin makin frustasi. Bahkan kini suaranya terdengar bergetar.

Belum sempat Kyungsoo membalas perkataan Jongin, Jongin memilih pergi dari hadapan Kyungsoo. Perasaannya kini makin kacau, bahkan air mata yang entah selama berapa tahun tidak keluar, mulai menghalangi pandangan matanya.

“Jongin gwencana?” Suho terlihat kaget ketika sosok berkulit tan itu masuk kamar secara tiba-tiba, dan langsung bersembunyi dalam selimut tebalnya meskipun udara panas.

“Jonginnie?”

“….”

Suho menoleh kearah Jongdae heran. Jongdae mengangkat bahunya singkat. Ia tau, mood Jongin sedang tidak bisa ditolerir lagi saat ini.

oOoOoOo

Hey, hwak mureo
Geu daeum mangmak heundeureo jeongsinirke
Hey, Ja, anhaebon seutaillo
Jeokeunboreumdari jigijeone haechi-

“Jongin perhatikan langkahmu!”

Seketika itu tape yang sedari tadi memutar lagu Wolf berhenti. Semua member mengatur nafas mereka yang tidak stabil.

“Jongin wae geure? Kau sudah melakukan kesalahan lebih dari sepuluh kali,” Lay menyodorkan sebotol air mineral pada Jongin yang disambut cepat oleh Jongin.

“Kau sakit?” kini manager Hyung ikut mengintrograsi Jongin.

Jongin menatap lesu kedua orang dihadapannya, “Seunghwan Hyung… aku boleh ijin pulang ke dorm dulu? Badanku tidak enak.”

Seunghwan mengamati keadaan Jongin dengan seksama, “Baiklah. Istirahat lah malam ini. Besok kau harus tampil di MCD.”

Jongin menggangguk sekilas kearah Seunghwan sebagai ucapan terima kasih. Diambilnya tas hitam miliknya yang berada di pinggir practice room, kemudian berjalan lurus menuju pintu keluar. Yang Jongin butuhkan saat ini adalah ketenangan. Ia ingin menjernihkan pikirannya yang sedang ruwet. Sekilas Jongin mendengar sebagian member mengucapkan kata semangat dan penuh perhatian. Namun langkahnya melambat ketika Jongin melewati Kyungsoo. Jujur saja, Jongin berharap akan ada sepatah kata yang keluar dari mulut Kyungsoo. Namun nihil. Jongin mendecih pelan saat mengetahui Kyungsoo bahkan tidak menatapnya. Sepertinya perang dingin diantara mereka masih akan berlangsung lama.

oOoOoOo

“Kyungsoo-ya,” Suho menyentuh lengan Kyungsoo lembut.

Ye Hyung?”

Suho melongokkan kepalanya kearah kemudi depan, dimana kini Jongin duduk dengan murung.

“Kalian belum baikan juga?” Suho berbisik pelan, takut Jongin akan mendengar meski van EXO kini ribut dengan suara riuh Baek-Hun-Yeol.

“Biar saja Hyung. Biarkan dia bersikap lebih dewasa sedikit.”

“Tapi ini sudah lebih dari seminggu Kyungsoo. Bahkan tiga hari belakangan ini Jongin tidak membiarkan makanan masuk ke dalam perutnya. Aku takut ia akan sakit nantinya.”

“Justru sikap itulah yang membuatnya terlihat sangat kekanak-kanakan. Biarkan saja Hyung. Kalau dia lapar, pasti dia juga akan makan,” jawab Kyungsoo enteng. Sejujurnya, dalam lubuk hati Kyungsoo yang paling dalam, tentu saja dia mengkhawatirkan setengah mati keadaan Jongin. Bagaimana mungkin Jongin dengan jadwal dan aktivitas yang menggila tidak mengisi nutrisinya. Hanya makan seadanya. Namun sisi lain Kyungsoo menyuruhnya agar ia tetap seperti ini, hingga sikap Jongin bisa berubah.

“Aku harap kalian cepat selesaikan masalah kalian. Melihat memberku seperti ini aku jadi merasa sedih,” kalimat terakhir Suho sebelum perbincangan mereka berakhir.

oOoOoOo

Jongin memandang miris pada mangkuk dihadapannya kini. Ramyeon yang sudah susah payah ia buat harus ia relakan untuk berakhir di tempat sampah. Jongin mendesah frustasi. Tengah malam seperti ini ia kelaparan, namun bingung apa yang harus ia makan untuk mengganti ramyeon rasa sampah yang baru saja ia buat. Sungguh, berurusan dengan dapur sama sekali bukan keahliannya. Sempat terlintas dipikirannya untuk membangunkan Chanyeol, mengingat Chanyeol lumayan bisa diandalkan dalam memasak ramyeon. Namun mengingat baru sekitar satu jam yang lalu para member beristirahat, Jongin mengurungkan niatannya tersebut.

“Aish ottohke?” Jongin mengacak-acak rambutya, nyaris gila.

“Bukankah biasanya kau akan membangunkanku kalau kau kelaparan tengah malam, Jonginnie?”

Jongin menahan nafasnya ketika mendengar suara yang familiar dari arah belakang. Ingin sekali ia menoleh dan memandang orang itu, namun entah mengapa tubuhnya seperti lumpuh layu.

“Sepertinya kau terlalu lama merebus. Ramyeonnya jadi seperti bubur. Aigo,” Kyungsoo –sosok tadi- mengangkat mangkuk ramyeon Jongin dan meletakkan di washtafel, berniat mencucinya nanti. Kini tangan kecilnya mulai menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk memasak dengan gesit, mulai dari ramyeon instan, telur, dan beberapa sayuran.

“Bukankah aku pernah bilang, tambahkan telur dan sayuran ketika kau memasak makanan instan, agar gizinya tetap ada. Jonginnie babo!” Kyungsoo tersenyum ringan, entah mengapa dapat mengatakan kalimat kepada Jongin membuat sebagian dirinya merasa lega.

“Kau masih marah padaku huh?” tanya Kyungsoo tanpa menolehkan padangannya kearah Jongin, fokus pada ramyeon buatannya.

“Bukankah kau yang marah padaku Hyung?” kalimat pertama yang lolos dari bibir Jongin setelah kedatangan Kyungsoo yang tiba-tiba.

Kyungsoo terdiam sebentar, kemudian melangkah kearah Jongin dan duduk di sampingnya,”Maaf, selama ini aku mendiamkanmu. Aku sungguh tidak bermaksud.”

Jongin menolehkan pandangannya kearah lain, ia masih belum siap untuk bertatapan langsung dengan Kyungsoo.

“Jongiiin~” Kyungsoo memanggil Jongin sedikit manja. Jemari kecilnya menulis secara random di punggung kekar Jongin.

“Bukankah aku sudah menjelaskan aku dan Minah hanya berteman Jongin, sungguh.”

Jongin tetap diam. Namun jantungnya berdetak lebih cepat ketika ia menyadari Kyungsoo yang bergerak pindah. Tanpa aba-aba kini sudah di depannya persis, dan memeluk leher Jongin dengan posisi masih berdiri.

“Bukankah saat itu kau sudah mengatakannya, kalau aku ini milikmu. Dan tidak ada yang bisa mengambilnya darimu huh?”

Jongin kini mendongkakan kepalanya, memandang pahatan wajah yang begitu ia rindukan seminggu belakangan ini.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu Hyung?” Jongin memandang Kyungsoo tajam, mencari kebohongan yang mungkin saja Kyungsoo sembunyikan.

Kyungsoo berfikir sejenak, kemudian tanpa ragu mendekatkan wajahnya ke wajah Jongin. Dengan lembut dan penuh rasa sayang, Kyungsoo menempelkan bibirnya ke milik Jongin. Hanya sentuhan dan diikuti lumatan-lumatan kecil sebelum akhirnya melepas tautan bibir mereka. Sungguh, Kyungsoo bukan ahlinya dalam bidang ini.

“Kemarin, sekarang, dan besok aku hanya milikmu Jongin. Aku mohon percayalah padaku.”

Kyungsoo tersenyum lembut, kemudian beranjak meninggalkan Jongin yang masih terdiam untuk mengangkat ramyeon buatannya. Dapat ia sadari seluruh bagian wajahnya terasa panas, mengingat bagaimana ia tadi yang mencium Jongin terlebih dahulu.

“Kau mau minum susu juga Jongin?” Kyungsoo meletakkan sebuah teko khusus merebus air, berniat menyeduh susu nantinya.

“….”

“Jonginie~” Kyungsoo menoleh kearah Jongin yang ternyata sedang memandangnya lekat tanpa berkedip. Kesalahan besar karena Kyungsoo pun ikut terseret dalam manik kelam nan memabukkan milik Jongin. Entah bagaimana ceritanya, kini Jongin sudah berdiri dihadapan Kyungsoo. Menatapnya dengan pandangan yang… ugh, sulit dijelaskan.

Sebelah lengan Jongin terangkat, mengelus pipi putih milik Kyungsoo. “Jangan berikan hatimu untuk orang lain.”

Kyungsoo mengedip-ngedipkan matanya lucu. Entahlah, berdiri sedekat ini dengan Jongin membuat hampir seluruh kesadarannya hilang entah kemana. Tatapan yang diberikan Jongin padanya akan membuat Kyungsoo jatuh sangat dalam kepada seorang Kim Jongin.

Dan pada akhirnya, Jongin memberanikan diri lebih mendekat ke wajah Kyungsoo. Menegang ketika nafas mereka bercampur menjadi satu menimbulkan rasa gugup yang meluap. Jongin bisa merasakan tubuh Kyungsoo sedikit tersentak tepat ketika bibirnya menyentuh sempurna pada bibir Kyungsoo. Awalnya memang hanya kecupan penuh rasa sayang. Namun entah kenapa, kali ini Jongin menginginkan lebih. Perang dingin selama seminggu ini membuat Jongin begitu merindukan dan menginginkan sosok dalam segelan bibirnya kini.

Jongin memindahkan tangannya ke pinggang Kyungsoo, menarik tubuh yang lebih mungil darinya itu untuk semakin mendekat. Jongin merasakan candu yang teramat luar biasa ketika dirinya semakin menyatukan tubuhnya dengan Kyungsoo. Kecupan manis tadi berangsur-angsur berubah menjadi lumatan-lumatan halus, hingga berakhir sedikit kasar. Jongin semakin memberanikan diri, kini berusaha melangkah lebih jauh melihat tidak ada penolakan dari Kyungsoo. Bahkan orang yang paling dicintainya itu malah mengeratkan pelukannya pada leher Jongin. Merasa kecanduan juga.

“Ngggh….”

Jongin melonjak senang dalam hati. Reaksi kecil dari Kyungsoo ketika tangannya menelusuk mengelus punggung Kyungsoo membuatnya sangat gemas. Tanpa melepas tautan pada bibir mereka, Jongin mendorong lembut tubuh Kyungsoo, hingga kini bersandar pada tembok dapur dorm mereka yang lumayan dingin.

“Kau… sangat manis Hyung,” Jongin akhirnya melepas ciuman ketika menyadari Kyungsoo mendorong tubuhnya pelan, mengisyaratkan kalau ia butuh pasokan oksigen.

Kyungsoo hanya diam menanggapi perkataan Jongin tadi, tubuhnya masih butuh penyesuaian untuk kembali ke keadaan normal setelah aliran listrik berjuta-juta volt yang Jongin sengatkan padanya tadi. Namun belum selesai penyesuaian dirinya, Jongin kembali menyerangnya. Kali ini lebih berani. Lebih panas. Lebih liar. Dan Kyungsoo menjadi semakin mabuk karenanya.

Kyungsoo bahkan merasa kakinya seperti lumpuh ketika dan perutnya seperti diaduk-aduk dengan abstrak ketika Jongin melakukan lebih jauh. Bahkan lenguhan tertahan mulai bermunculan ketika tangan Jongin menyibak kaus putih Kyungsoo. Mengelus, menekan, bahkan menggoda apa yang seharusnya ditutupi kaus itu.

Semakin dalam, dalam, dan dalam Jongin merobohkan seluruh pertahannya. Tapi entah mengapa, Kyungsoo malah merasa semakin senang.

oOoOoOo

Jongin meruntuk sebal di depan ruang tunggu EXO. 15 menit lagi EXO harus tampil di panggung Music Core dan ia terpaksa mengantar Baekhyun ke toilet. Bukan masalah tidak mau, hanya saja yang diantar malah entah sedang melakukan apa di dalam. Sedari tadi tidak kunjung keluar.

Annyeonghaseyo Kai-ssi,” Jongin tersenyum canggung pada gadis manis yang tiba-tiba menyapanya. Sedikit siratan rasa benci ketika Jongin harus menatap gadis itu demi sesuatu yang disebut sikap sopan.

“Kai-ssi, boleh aku bertanya sesuatu darimu?” gadis tadi menarik Jongin tanpa ijin sedikit menjauh dari depan pintu ruang tunggu EXO, membuat guratan rasa tidak suka semakin ketara terpatri di wajah tampannya.

“Silahkan saja, Minah sunbae,” jawab Jongin seadanya.

“Kau pasti tau kan, siapa kekasih Kyungsoo saat ini?” to the point. Gadis innocent di depan Jongin kini ternyata sangat to the point.

“Memangnya kenapa?”

Minah memandang lekat Jongin dengan ekspresi super serius, “Dibandingkan dengan aku, lebih baik siapa? Terutama senyum kami.”

Jongin menatap bingung Minah. Kenapa dengan gadis ini?

“Kemarin, aku mengatakan pada Kyungsoo kalau aku menyukainya. Dan mengajaknya untuk yah… berkencan. Tapi kau tau jawaban Kyungsoo?” Kalau saja Minah bukan seorang gadis, sekarang bogem mentah Jongin pasti sudah mendarat di wajah cantiknya.

“Kau tau apa jawaban kyungsoo, Kai-sii? Dia mengatakan kalau dia telah menyukai seseorang. Lalu aku bertanya, apa senyumnya sangat menawan? Dan Kyungsoo bilang kalau senyumnya, ah bahkan seluruh yang ada pada dirinya bagaikan sihir untuknya. Aish, ternyata aku telah tertinggal selangkah dari gadis itu.”

Jongin kini berbalik memandang Minah sweatdrop. Sungguh. Ia bersumpah kalau ini adalah kali pertamanya berbcang pada Minah. Tapi kenapa gadis ini begitu… ceplas-ceplos?

“Kau mengenal gadis Kyungsoo kan, Kai-ssi?” Minah mendekatkan wajahnya pada Jongin. Menyerang Jongin dengan aegyo kuatnya. Bahkan hingga membuat Jongin mundur dua langkah.

Jongin mengangguk kikuk.

“Boleh kau sampaikan padanya, meskipun kini Kyungsoo ada dalam pelukannya, tapi baiknya dia berhati-hati. Aku, Bang Minah akan dengan segenap kekuatan cintaku pada Kyungsoo, akan merebut Kyungsoo darinya!”

Jongin kembali pada kesadarannya, kini berdiri tegak dan sedikit menyeringai.

“Aku mengenal betul siapa KE-KA-SIH Kyungsoo Hyung. Asal kau tau Minah-ssi, DIA tidak akan membiarkan begitu saja Kyungsoo direbut olehmu. Dan setauku Kyungsoo Hyung juga sangat mencintainya, melebihi apapun,” wajah Jongin semakin menunjukkan aura setan.

“Bang Minah tidak akan menyerah begitu saja. Asal kau tau Kai-sii, Bang Minah adalah pejuang yang gigih,” Minah mengubah mimik wajahnya menjadi super serius.

Entah bagaimana untuk menggambarkan tatapan antara Jongin dan Minah sekarang. Penuh rasa benci, penuh emosi yang tersembunyi, dan penuh persaingan. Moment itu kemudian di pecah begitu saja oleh Baekhyun yang datang tiba-tiba, “Ya! Kkamjong, aku menca-  ah annyeonghaseyo, Minah-sunbaenim.”

Tanpa menanggapi salam Baekhyun, Minah berlalu begitu saja dari hadapan keduanya.

“Hei, Kkamjong wae geure?” Jongin kemudian menoleh. Dan detik itu juga Baekhyun menyadari kalau nyawanya sedang di ujung tanduk.

“Kau tau Hyung? Nafsu membunuhku sedang begitu besar!”

Baekhyun menelan liurnya dengan susah payah, “Ah Jong-jongin. A-aku rasa ka-kau mengajak yang lain sa-saja ke toiletnya.”

Dan Baekhyun berlalu begitu saja dari hadapan Jongin.

Jongin menggeram pelan.

Bukankah cacing menyebalkan itu yang tadi merajuk minta di temani ke toilet?

FIN

Advertisements

6 thoughts on “[EXO Fanfiction] Rivalry Between K and M

  1. Anyeong^^
    han ririn imnida, 96line adik dr kriss galaxy oppa, yeojachingu kyungsoo n sahabat dr SeKai kekeke. salam kenal^^ eeumm cerita kaisoo nya lucu, manis bgt! dr sekian ff yg aku baca, aku baru nemu ff kaisoo dg minah sebagai salah satu cast nya. hehe unik banget ceritanya, yaampun itu jongong item cemburunya sampe pengen makan orang ya–” dan minah…. dia bener” kaya orang overdosis gara” kyungie:*
    itu jongong mesum bgt!! dsar jongong! tp aku suka scene yg malem” berduaan bikin ramyeon ehh berakhir di *skip
    byunbaek lucu bgt, pasti dia cengo krena gtau apa” jongong item marah ke dia *poorbyunbaek
    bikin sequel nya dong author~nim #wink persaingan minah saat ngerebut kyungie dari jongong gitu hehe #keep writing^^

    1. Annyeong, nama kita sama 🙂
      Kekekeke~ biasalah si jongin kalo jeles emosi nggak bisa di kontrol ._.
      Duh duh, author juga malu kalau inget adegan yg itu >///< #ketahuanauthornyamesum
      Yep! Keep writing~~ 🙂
      Thanks for coment~ #hug

  2. . Hihi XD somvlak si baekhyun … Tp daebak loh ceritanya Thor !! Bikin yang Taoris yah tp happy ending ,

    . Love u author :*

  3. kyaaaa ~ aku suka ceritanya nih. biasanya kan orang ketiga itu sukanya ngegaet yg seme tapi disini minah sebagai org ketiga malah suka sama ukenya. awawaw aku suka banget ini thor (y) 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s